Sabtu, 26 Mei 2018

PENERAPAN SISTEM TERDISTRIBUSI DI SMART CITY TOKYO JEPANG


Smart city merupakan pengembangan, penerapan, dan implementasi teknologi yang diterapkan untuk suatu wilayah. Smart city juga mampu memberikan dampak positif bagai berbagai aspek baik pemerintahan, kehidupan sosial, transportasi, dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. konsep Smart City ini memiliki visi untuk mengintergasikan informasi teknologi komunikasi (IT) dan internet dan menjadikannya menjadi solusi yang aman untuk mengelola aset kota tersebut. Aset tersebut bisa berupa sistem informasi departemen lokal, sekolah, perpustakaan, rumah sakit, transportasi publik, pembangkit listrik dan layanan masyarakat lainnya.
Bagi sebuah kota cerdas, seluruh aktivitas yang terkait dengan layanan publik dapat dikelola dengan mengembangkan sebuah platform untuk monitoring dan menyatukan semua data yang relevan. Pengembangan Smart City juga sangat ditentukan oleh tingkat kematangan (maturity) dari kota dalam mengembangkan Smart City sebagai layanan untuk membuat kota yang cerdas. Tingkat kematangan ini dapat meliputi pengelolaan dan layanan TIK terkait Smart City. Layanan-layanan tersebut dapat meliputi tata kelola pemerintahan, ekonomi, kondisi sosial dan kualitas hidup masyarakat, infrastruktur perkotaan (transportasi, energi, dan lain-lain) dan kondisi lingkungan perkotaan. Model tingkat kematangan ini perlu disusun untuk melihat kemampuan kota dalam pengembangan smart city ke depan. Berikut ini adalah beberapa manfaat dari konsep Smart City:
1) Memperbaiki permasalahan di masyarakat
2) Meningkatkan layanan publik
3) Menciptakan pemerintahan yang lebih baik
4) Mencerdaskan masyarakat
5) Mengelola potensi kota dan potensi SDM
Menurut Cities in Motion Index (CIMI), Tokyo meraih peringkat pertama sebagai kota cerdas terbaik di dunia. Gak heran lagi negara yang dijuluki negeri matahari terbit ini menjadi peringkat paling atas, Kota nya bersih, Masyarakatnya patuh pada aturan. Kebanyakan orang jepang menggunakan subway karena tepat waktu dan harganya murah, Hanya sekitar 150-170¥. Subway tersebut menggunakan semacam ID Card bernama Pasmo atau Suica untuk pembayaran, Anda hanya perlu mengisi saldo pada kartu tersebut ditambah pengisian yang terdapat di seluruh subway, penggunaan nya sangat mudah karena hanya tinggal Tap saja. Karena saya juga sangat mengerti kebutuhan masyarakat Tokyo yang sangat mengagungkan waktu daripada apapun. Kartu tersebut juga dapat digunakan untuk membeli minuman di vending machine, membeli barang di convenience store ataupun naik bus. Simple, Aman dan Nyaman ditambah juga ramah untuk wisatawan asing. Karena transportasi yang aman dan modern serta mudah digunakan masyarakat adalah salah satu konsep dari Smart City. Selain menggunakan subway dan bus untuk mengelilingi Tokyo bahkan ke prefektur sebelah, Konsep Smart City yang ditambahkan oleh pemerintah Jepang adalah sepeda dan tempat parkirnya? Kenapa? Di Jepang membuat SIM memang sangat ribet dan biayanya juga mahal, mungkin pemerintah disana ingin tetap menjaga kadar polusi udara dengan membatasi orang-orang yang memiliki SIM ataupun orang-orang yang bisa mengendarai kendaraan. Sepeda pun jadi transportasi yang umum dan banyak ditemukan disekitar Tokyo. Namun saking banyaknya pengguna sepeda, Pemerintah disana kebingungan memberikan fasilitas parkir sepeda. Karena lahan di Tokyo benar-benar sangat mahal dan sempit, Tetapi mereka tidak kehabisan ide, Jepang membuat tempat parkir sepeda di bawah tanah! Mereka menggunakan teknologi lift dan robot untuk mengatasi masalah ini. Anda dapat mengecek liputan videonya dibawah ini. Namun sepeda anda sebelumnya harus dipasang IC chip terlebih dahulu untuk memanfaatkan fasilitas tempat parkir ini.
And next I’ll show you “Urban Farm” yaitu sebuah garden (taman) atau saya akan sebut perkebunan di dalam gedung alias indoor, namun beberapa ada yang terletak di rooftop gedung itu sendiri. Tanah di Tokyo memang sangat mahal, padat dan sempit. Memungkinkan mereka tidak bisa berkebun dengan leluasa di tanah ataupun persawahan. Perkebunan ini setidaknya memasok beberapa buah maupun sayuran yang bisa dimakan ataupun hanya sekedar hobi beberapa orang-orang yang menyukai berkebun namun dengan lahan yang sangat minim. Menurut beberapa sumber perkebunan ini bisa diatur suhu dan kelembapan dengan lampu-lampu yang dihubungkan dengan komputer untuk menjaganya. Makanya teknologi benar-benar sangat dibutuhkan. Iya juga sih karena tanaman ini membutuhkan memang membutuhkan cahaya matahari untuk berfotosintesis, Kalau tidak diberikan cahaya sama sekali jadi tidak bisa tumbuh dengan sempurna.
Kota cerdas tidak akan lengkap dengan pertumbuhan gadget, barang elektronik dan juga internet. Salah satunya yang saya akan bahas kali ini adalah WiFi, Internet memang sudah jadi bagian yang penting bagi kaum metropolitan sekarang. Apalagi Jepang sedang mengadang-gadang WiFi gratis di seluruh pelosok Jepang, Namun anehnya negara tetangga Jepang yaitu Korea selatan bahkan lebih memiliki banyak titik WiFi gratis, Bahkan Singapura yang notabene negara tetangga kita disebutsebut memiliki akses WiFi gratis yang lebih banyak.
Jepang juga telah mencoba sistem microgrid sistem microgrid ini akan memasok listrik ke 117 rumah tangga di Zona D4 Smart City Shioashiya Solar-Shima, yang didesain dan dikembangkan oleh PanaHome di Ashiya City, Hyogo Prefecture. Pada 9 Agustus 2017, proyek itu terpilih sebagai bagian dari program subsidi Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri guna meningkatkan produksi energi lokal untuk konsumsi lokal dengan memanfaatkan karakteristik regional.
Proyek patungan ini dilakukan oleh PanaHome, ENERES, IBJ Leasing dan Public Enterprises Agency. Proyek tersebut berkonsep "kota yang saling terhubung dengan energi untuk hidup." PanaHome membeli tanah yang dikembangkan oleh Public Enterprises Agency. Panasonic Corporation dan City of Ashiya juga bekerjasama mengembangkan proyek ini. Bagian dari proyek itu memerlukan sistem microgrid yang pertama dimiliki
Jepang.
Energi surya akan digunakan untuk menerangi 80% atau lebih (*3) dari seluruh distrik perumahan. Ini dimungkinkan dengan mengalirkan listrik dari perusahaan swasta (*4) ke distrik perumahan dan berbagi daya listrik antar rumah. Bahkan ketika aliran listrik yang biasanya di kawasan tersebut terganggu dalam keadaan darurat, jaringan listrik dari perusahaan swasta bisa terus memasok listrik melalui rangkaian khusus. Jaringan listrik swasta memungkinkan pasokan listrik dan menetapkan tingkat daya secara fleksibel.
Oleh karenanya, ini memberi manfaat bagi para pemilik rumah, yakni bisa menghemat biaya listrik 20%. Tujuan penting lainnya adalah kontribusi terhadap lingkungan, terutama dengan memaksimalkan penggunaan energi terbarukan untuk mengurangi emisi CO2. Ke depannya, proyek ini akan memberi solusi untuk berbagi daya listrik antar bangunan, mencegah pemadaman listrik di berbagai area di luar negeri di mana jaringan listriknya lemah, dan dalam memperlihatkan solusi tersebut di luar negeri.
Sumber :




Tidak ada komentar:

Posting Komentar